“Senantiasa ada dari umatku sekelompok orang yang menegakkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak merugikannya orang yang menghina dan menyelisihi mereka sampai datang hari kiamat dan mereka berada dalam keadaan demikian” [Mutafaqun Alaihi]

Posts tagged ‘mahabbah’

Al-Mahabbah (kecintaan)

Dari Abu hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhum (pelayan Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam) dari Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam  bersabda, yang artinya:  “Tidak beriman seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri” (HR: Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini adalah salah satu kaidah dari kaidah agama Islam dan yang dimaksud darinya adalah persamaan yang dengannya bisa terwujud kecintaan dan persahabatan yang langgeng di antara manusia dan teraturlah keadaan mereka.

Penjelasan
Hal ini dimungkinkan atas keumuman persaudaraan baik mencakup kafir ataupun muslim maka ia mencintai saudaranya yang kafir sebagaimana mencintai dirinya sendiri agar ia masuk ke dalam Islam sebagaimana ia mencintai kepada saudaranya yang muslim agar ia tetap dalam Islam. Oleh karena itu mendo’akan hidayah bagi orang kafir adalah sunnah (dianjurkan). Dan hadits menunjukkan atas peniadaan iman yang sempurna bagi orang yang tidak mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Dan yang dimaksud dengan kecintaan adalah maksud untuk berbuat kebaikan dan kemanfaatan kemudian yang dimaksudkan adalah kecintaan yang bersifat keagamaan bukan yang bersifat kemanusiaan. Karena tabiat manusia kadang membenci terwujudnya kebaikan dan membedakannya atasnya. Maka manusia wajib menyelisihi tabiat manusia dan mendo’akan saudaranya ingin untuknya apa-apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri. Dan seseorang jika tidak mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya maka ia telah hasad. Dan hasad, sebagaimana dikatakan oleh Al-Ghazali terbagi menjadi tiga bagian:

  • Ia menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain dan terjadi pada dirinya.
  • Ia menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain dan jika tidak terjadi padanya, sebagaimana jika ia memiliki yang semisal tidak mencintainya dan ini lebih jelek dari pada yang pertama.
  • Ia tidak menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain akan tetapi ia benci jika bagian dan kedudukan orang lain itu naik. Dan dia rela jika terjadi persamaan dan tidak rela jika ada tambahan dan ini juga haram. Karena sesungguhnya ia tidak rela dengan pembagian Allah Ta’ala. Sebagaimana yang di Firmankan Alloh Ta’ala, yang artinya: ”Apakah mereka yang membagi rahmat Rabb kalian ?! Kamilah yang membagi” (QS: Az-Zuhruf: 32). Barang siapa yang tidak rela dengan pembagian, maka ia telah menetang Alloh Ta’ala dalam pembagian-Nya dan hikmah-Nya. Wajib bagi manusia untuk mengobati dirinya dan menuntunnya kepada kerelaan dengan ketetapan dan menyelisihinya karena permusuhannya dengan yang diselihi oleh jiwa.

“Tidaklah sempurna iman seseorang sehingga ia menginginkan untuk saudaranya sama dengan yang dia inginkan.” Adalah Mencintai kebaikan untuk saudara Muslim sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri dan membenci kejelekan menimpa saudara Muslim sebagaimana ia membenci kalau hal itu menimpanya.

Advertisements

Tag Cloud